Baity Jannaty : Peringatan Maulid Nabi SAW 

 Fast FM Magelang,  28-11-2017 13:56:11

  

Baity Jannaty

Selasa Malam Rabu, 21 Nopember 2017 M / 03 R Awwal 1439 H

T e m a  :

Peringatan Maulid Nabi SAW 

Respon Dari Salah Satu Pendengar Melalui Email Fast Fm

Assalamu’alaikum Warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah saya bersyukur pada kesempatan ini surat yang saya kirimkan melalui email fast fm bisa di angkat di acara Baity Jannaty.

Di awal memasuki bulan Maulud ( Rabi’ul Awwal ) dan juga pada beberapa hari berikutnya, Gus Yusuf telah menyinggung tentang peringatan mauled di Gu

s Yusuf Channel kemarin, namun masih ada beberapa hal yang saya harapkan Gus Yusuf berkenan mengulang atau memberikan penjelasan lebih lanjut, diantaranya tentang :

Pengertian maulid dan Peringatan Maulid itu sendiri, dan bagaimana bentuk acara yang diperkenankan?

1.Tentang pernyataan sebagaian “saudara muslim kita yang lain”, bahwa peringatan itu adalah bid’ah ( sesuatu yang mengada-ada dalam ajaran Islam ).

2.Dan dalam sebagian bacaan maulid terdapat unsur peng-kultusan terhadap Nabi Muhammad, yang kata mereka hal tersebut dilarang dalam agama Islam.

3.Bagaimana pula hukum berdiri disaat pembacaan Maulid Nabi. Dan tentunya hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

Dengan keterangan dari Gus Yusuf, saya harap bisa memberikan penjelasan kepada jamaah saya yang pernah menanyakan kepada saya, atau jika saya tidak mampu menjelaskannya, setidaknya menjadikan saya lebih “mantep” dengan tradisi yang sudah sejak kecil saya kenal itu.

Demikian Gus, yang dapat saya sampaikan terima kasih atas penjelasannya. Semoga Fast FM tetap jaya di udara. Terima kasih juga, untuk Mas Dimas. Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Dari Zaenal Umam di Tegal

 مَنْ عَظَّم مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Barangsiapa mengagungkan hari kelahiranku, maka aku akan memberikan syafa’at pda nya pada hari kiamat kelak”

 Peristiwa Peristiwa saat Kelahiran Nabi

Beberapa peristiwa luar biasa mengiringi kelahiran beliau, diantaranya adalah padamnya api pemujaan di Persi yang seribu tahun sebelumnya tak pernah padam sama sekali, hancurnya pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah yang hendak menghancurkan ka’bah. Mereka hancur ditimpa batu – batu panas  yang dibawa burung-burung ababil yang sengaja dikirim Allah untuk membatalkan niat busuk mereka, Pohon Kurma yang Kering Kembali Berbuah, Mata Air Kering kembali Mengucur, Dewi Aminah tidak merasakan sakit saat melahirkan Nab.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid ad-Dibai, milik Imam Abdur Rahman ad-Dibai,

فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا وَامْتَلَأَتِ السَّمَوَاتُ أَنْوَارًا وَضَجَّت الْمَلَائِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا

“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad), Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya. Kursi juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya. Seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang. Para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah .”

 Peringatan Maulid Nabi

Kata “Maulid” adalah zaman dari lafadz وَلَدَ- يَلِدُ- وِلاَدَةً  yang artinya masa/waktu kelahiran, sedangkan kata “Maulud” adalah isim maf’ulnya yang mempunyai arti orang/bayi yang dilahirkan, perayaan maulid nabi SAW itu sebetulnya merupakan rasa syukur dan senangnya kaum muslimin atas anugrah Allah berupa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid itu embriionya sudah ada sejak Nabi kita hidup, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadist riwayat dari Abi Qotadah :

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الْأَنْصَرِيِّ رَضِيَ الله عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ  : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.(H.R. Muslim).

Bahkan peringatan Maulid Nabi juga telah dilakukan oleh paman Nabi bernama Abu Lahab. Al kisah saat beliau Cahaya alam semesta. dilahirkan, Abu lahab sangat gembira, meski akhirnya Abu Lahab menjadi musuh Nabi dan kaum muslimin. Abu Lahab pun memerdekakan budak sahaya bernama  Tsuwaibah (yang kelak menyusui nabi) sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, Abu Lahab mendapat dispensasi siksaan pada setiap hari senin berupa minuman yang mengalir dari sela-sela ibu jarinya.

Imam Bukhori mengkisahkan, setelah Abu Lahab meninggal, salah satu familinya bermimpi melihat Abu Lahab dalam kondisi yang sangat buruk. Ia menanyakan kepadanya perihal situasi yang ditemui setelah kematian. Abu Lahab menjawab :

لَمْ أَلْقِ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سَقَيْتُ فِيْ هَذِهِ بِعِتَاقِي ثُوَيْبَةَ

“Tidak sedikitpun kutemukan kenyamanan, hanya saja aku diberi minuman disini ( sambil menunjuk ibu jari tangannya ), karena aku telah membebaskan Tsuwaybah.” (HR. Bukhori).

 Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi sehubungan dengan Prosesi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal-hal itu adalah :

1.Niat

Artinya orang yang mengadakan mauludan, hendaknya berniat mensyukuri nikmat Allah SWT. Berupa kelahiran serta turutusnya Rasulullah SAW untuk menebar rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil Alamin).

2.Cara

Artinya, cara pelaksanaan perayaan mauludan ini bisa diwujudkan dalam bentuk yang beraneka ragam, asalkan tidak diisi dengan hal-hal yang subversif yang menyimpang dari syari’at Islam, seperti berbaurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, eksploitasi aurat habis-habisan, tadzbirul maal (menghambur-hamburkan harta). Adapun yang biasa dilakukan seperti mengadakan majlis ta’lim, membaca shalawat, sya’ir-syair puji-pujian atau membaca kitab Maulid seperti Al-Bazanjiy, Ad-Diba’iy, Simtuth Duror, bersedekah atau hal lain yang bernilai ibadah.

مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَماً فِى مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi Saw : akan menjadi temanku masuk surga”. 

3.Hikmah

Artinya, dari perayaan mauludan ini diharapkan kaum muslimin bisa bertambah rasa mahabbahnya kepada nabi sehingga mereka bisa memetik teladan dari perilaku beliau yang mulia dalam kehidupan sehari hari.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوْ اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab).

Peringatan Maulid Bid’ah ?

Peringatan Maulid Nabi pertama kali pada abad ketiga oleh penguasa Irbil, Raja Mudhaffar Abu Sa’id Al Kuburi ibn Zainuddin  Ali ibn Buktikin. Jadi memang tidak dipungkiri, bahwa Peringatan Maulid Nabi adalah Bid’ah, karena tidak diajarkan oleh Nabi. Tetapi yang kita pendapat yang kita yaqini dari mayoritas Ulama’ Ahli Sunnah Waljama’ah, tidak semua bid’ah itu tecela. Hukum bid’ah diperinci, seperti hukum-hukum Islam yang ada lima (wajibah, mandzubah/sunnah, mubahah, makruhah, dan muharromah). Yang lebih simple dibagi menjadi dua Hasanah dan Sayyi’ah.

Adapun Peringatan Maulid Nabi adalah termasuk Bid’ah Hasanah, seperti yang diungkapkan oleh Imam Abu Syamah, beliau adalah guru Imam Nawawi ;

وَمِنْ أَحْسَنِ مَا أُبْتُدِعَ فِيْ زَمَنِنَا مَا يُفْعَلُ كُلَّ عَامٍّ فِي الْيَوْمِ الْمُوَافِقِ لِيَوْمِ مَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الصَّدَقَاتِ وَالْمَعْرُوْفِ وَإِظْهَارِ الزِّيْنَةِ وَالسُّرُوْرِ فَإِنَّ ذَلِكَ … مُشْعِرٌ بِمَحَبَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَعْظِيْمُهُ فِيْ قَلْبِ فَاعِلِ ذَلِكَ وَشُكْرَ اللهِ تَعَالىَ عَلىَ مَا مَنَّ بِهِ مِنْ إِيْجَادِ رَسُوْلِ اللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ .

“Termasuk dari sebaik-baiknya bid’ah dizaman kita adalah kegiatan yang dilakukan pada tiap tahun bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, yakni dengan bershodaqoh, berbuat baik (pada orang lain), memperlihatkan pakaian yang bagus dan menampakkan kebahagiaan, karena sesungguhnya hal tersebut menunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw, dan juga wujud peng-agungan terhadap beliau dan juga wujud syukur kapada Allah atas anugerah-Nya dengan mengutus seorang Nabi (dengan misi) Rochmatallil-’alamiin.” (I’anatutholibiin, Jilid III, hal 414)

 Mengkultuskan Nabi Dengan Pujian, dilarang ?

Sya’ir – syair yang digubah oleh para pujangga yang dipenuhi rasa cinta kepada beliau Saw, seperti ynag termaktub dalam Al Barzanjiy, Ad- Dziba-‘I dan juga simtith Duror, penuh dengan pujaan dan sanjungan terhadap kemuliaan Rasulullah. Bahkan kata terindah yang ada di dunia ini pun, belum bisa menyamai apalagi sepadan untuk memuji akhlaq beliau. Keringatnya lebih wangi dari pada minyak misik, sinar wajahnya lebih terang dari bulan purnama. Demikian berbagai pujian yang tersurat dalam kitab-kitab maulid.

Sebagian diantara saudara kita memang ada yang melarang membaca kitab-kitab tersebut, mereka menganggap terlalu berlebihan. Dengan berdalih hadits dengan Bukhori tentang pelarangan pemujaan secara berlebihan terhadap Rasulullah Saw. Mungkin hadits yang dimaksud adalah :

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَي إِبْنُ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

“Jangan memuji aku secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani memuji Isa ibnu Maryam. Aku hanyalah hamba Allah. Maka katakanlah ; Hamba Allah dan utusan –Nya.” (Hadits Riwyat Bukhori)

 Yang perlu dipahami, esensi dari hadits tersebut adalah pelarangan pemujaan secara berlebihan kepada nabi Muhammad sebagaimana pemujaan yang berlebihan yang dilakukan oleh kaum Nasrani kepada nabi Isa As, yang dengan serta merta menganggap nabi Isa sebagai anak Tuhan atau salah satu dari tiga tuhan (trinitas).

Sementara, pemujaan atau puji-pujian yang dilakukan oleh umat Islam khususnya warga Nahdliyyin tidak melampaui batas tersebut. Kecintaan kita terhadap beliau yang diungkapkan dengan bahasa dibuat sedemikian rupa, sehingga sebagai umat beliau yang tidak menjumpai langsung dengan beliau, dapat tergugah dan terpupuk rasa cinta yang mendalam terhadap kemuliaan beliau Saw disisi Allah. Dan tentunya hal tersebut masih berdasar pada koridor hukum Islam valid dan terpercaya.

Bahkan pujian terhadap Rasulullah, banyak dijumpai dalam beberapa ayat Al Qur’an Al- Kariim, diantaranya :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pakerti yang agung” (QS. Al Qolam ; 04)

 Allah sendiri yang menciptakan nabi, memuji keagungan budi pakerti ciptaan-Nya. Sekaligus juga memerintahkan kepada kita untuk memberikan salam penghormatan atas keagungan beliau Saw, perintah ini adalah wajib, sebagaimana yang dilakukan dalam sholat fardlu dan sunnah pada selainnya. Sesuai dengan Firman Allah :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” ( QS. Al Ahzab ; 56 )

 Berdiri Sa’at Pembacaan Maulid

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah stau tujuan membaca sholawat itu adalah untuk mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Dalam islam, cara mengagungkan seseorang itu  bisa diwujudkan dengan beraneka ragam cara. Satu diantara beberapa cara yang islami adalah dengan cara berdiri . seperti dalil hadist yang ditulis oleh sayyid Muhammad Al-Alawi dalam kitabnya Haulal Ihtifal bi dzikril maulid :

وَرَدَ فِي الْحَدِيْثِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِطَا بًا لِلْاَنْصَارِ :قُوْمُوْا اِلَى سَيِّدِكُمْ (اَلْحَدِيْثَ) وَهَذَا الْقِيَامُ كَانَ تَعْظِيْمًا لِسَيِّدِنَا سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Artinya diriwayatkan dalam sebuah hadist yang muttafaq alaih sabda nabi SAW. Untuk para sahabat anshor “berdirilah kamu untuk menghormati pemimpinmu” (Alhadist) perintah nabi agar mereka berdiri ini semata mata untuk menghormati sahabat sa’ad ra.

 Logikanya, jika untuk menyambut kedatangan sahabat Sa’ad saja kaum anshor diperintah oleh nabi agar berdiri, tentu berdiri untuk menghormati nabi lebih layak dilakukan sebagai ekspresi dari bentuk penghormatan yang sempurna.

Akhiron

Demikian, telah jelas Peringatan Maulid Nabi adalah tradisi Ahlussunah Wal Jama’ah yang bertendensikan hukum kuat. Seyogyanya kita generasi penerus mengetahui untuk kemudian melestarikan tradisi yang telah diajarkan oleh para Ulama salaf as- sholihin. Terlebih ditengah generasi Islam muda masa kini yang mulai menunjukkan degredasi moral,  mempelajari hikayat beliau diharapkan dapat memetik suri tauladan dalam upaya pembentukan  karakteristis bangsa yang bermoral beradab dan beragama sesuai dengan ajaran Nabi Saw. Dan Sudah seharusnya pula kita tetap menghormati “saudara kita” yang tidak sependapat dengan kita, sepanjang perbedaan itu tidak menimbulkan keresahan. Apalagi hanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat furu’. Wallahu ‘Alam Bish Showwab.

 

Komentar

Counting


LATEST TUNE-IN